Jumat, 20 Desember 2013

My Day My Drama




Akhir-akhir ini sepertinya isi blog ini terlalu serius ya. Mau bagaimana lagi, aku memang tengah menghadapai masa-masa “serius” belakangan ini. Sekarang pun aku mau berbagi tentang hal masih berbau-bau agak serius dan sedikit yaaaaa dramatis mungkin.

Ceritanya hari itu aku aka nada ujian praktikum parasitologi , aku sudah sangat hapal mati dengan berbagai jenis cacing beserta telurnya dan protozoa berbagai bentuk. Tapii sebelum ujian praktikum di mulai, tiba-tiba namaku dan beberapa orang (5 orang kalo ga salah) di panggil sama salah satu dosen. Setelah itu kami di suruh menemuinya sebentar.
Ketika kami menemuinya dosen kami yang juga dokter itu mengatakan bahwa kami harus menemuinya jam 1 di salah satu laboraturium di kampus. Kami pun bingung, dan bertanya ada apa sebenartnya. Awalnya dosen kami terlihat ragu untuk ngasih tau alasannya, akhirnya setelah kami desak beliau  bersedia ngasih tau, beliau bilang “Ini ada hubungannya dengan hasil tes darah kalian, jadi saya harap kalian bisa menumui saya nanti, ini sangat penting.” Jegeeeeeeeeeer (lebay) tapi ini serius aku, kami lebih tepatnya lumayan terkejut dengan pernyataan dosen barusan. Ada apa dengan hasil tes darah (yang diambil waktu penerimaan mahasiswa baru) kamiiiiiiiiiiii??? Kami pun saling bertukar pandang, menelan ludah masing-masing (yailah masak ludah temen yg di telen, iuuuuh, apa banget kok jadi jorok gini sih). Intinya, berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran kami, atau hanya aku entahlah. Aku mulai berpikir, apa di sampel darahku ditemukan jejak narkoba? Gak mungkinlah!!! Aku berani sumpah ga bernah kenal apalagi deket-deket sama barang haram nan hina itu. Atau mungkin aku ternyata terkena penyakit parah dan hidupku tidak lama lagi? Dan universitas terpaksa mengeluarkanku dari kampus karena penyakitku itu (Oh c’mon aku baru lima bulan di sini)!!! Kemungkinan terakhir sample darahnya hilang, dan harus ambil darah ulang. Ya semoga alasan terakhirlah yang benar, karena ga mungkin rasanya kami terkena penyakit parah secara massal kan? Atau ITU MEMANG MUNGKIN.
Entahlaaaaaaaaaah pokoknya ujian parasitologiku kacau balau musnah binasah. Aku blank, sial!! Kenapa dosenku itu harus ngasih tau kabar yang serba ambigu itu di detik-detik aku menjelang ujian coba. Kepekiranlah!!!!!
Setelah ujian yang entah bagaimana hasilnya nanti itu selesai, aku dan satu temenku yang juga dipanggil masih ada praktikum. Alhasil kami telat datang menemui dosen itu. Di sela-sela langkahku menuju laboraturium aku menyempatkan diri mengirim pesan ke orang tuaku (dan aku menyesali tindakan ku itu). Ma, pa mungkin kalian ga akan bisa melihatku mengucap sumpah dokter karena…… Enggak-enggak bukan itu isi pesanku. Ma, pa a*** (panggilan keluarga) di panggil sama dokter katanya hasil tes darah yang kemarin bermasalah. A*** takut. (Oke agak drama memang). Tadi kan aku sudah bilang sebelumnya ini agak drama!!! Tapi memang saat itu aku takut banget, bayangin aku jauh dari orang tua, bagaimana kalo aku divonis yang (amit-amit) aneh-aneh.
Oke sesampainya kami di laboraturium ternyata ada sekitar lima belas orang yang sudah duduk melingkari dosen yang memanggil kami tadi. Karena kami telat dosen itu hanya berkata, sabar ya nanti saya ulang penjelasannya.
Dengan nafas yang masih engap, aku dan temanku itu mencoba mengikuti alur pembicaraan dosen kami ini. “Ya jadi begitulah, kalau kalian mau mendiskusikannya dulu sama orang tua kalian silahkan, biar kita bisa melakukan tindakan selanjutnya.” Apaaaa? Telingaku langsung menyalang, diskusikan? Tindakan selanjutnya? Ada apa ini? Aku memandang wajah teman-temanku yang lain, saat itu aku merasa wajah mereka seperti you never alone, we will fight together (alah apa bangetlah ini). Ya, sejujurnya ekspresi temenku yang lain biasa aja sih, tapi karena aku belum mendapat penjelasan apapun tentang masalah darah mendarah ini, jadi aku banyak berspekulasi yang aneh-aneh. Akhirnya ku bertanya pada salah satu temanku yang sudah menyimak omongan dosen ini dari awal.
“Ada apa ya? Kenapa darah kita?”
“Ada kelainan di daerah kita, tazmania.(nama penyakit disamarkan).”
Apaaaaaaaaaa???? Taaa-taaa--taazzz--maaa--maaa--nii--niiaa. Sejujurnya aku ga tau kelainan darah apa itu. (Aku baru mahasiswa semester satu, wajar kan belum tau). Tapi rasanya aku pernah mendengar tentang penyakit itu, aku berusaha mengumpulakan sisa pengetahuanku ditambah ingatanku yang pas-pasan, Ahhh iyaaa anaknya teman papaku ada yang meninggal dunia karena penyakit tazmania. Lantas apa itu artinyaaa???
Teman yang kutanyai tadi tampak menatap kosong ke depan (sepertinya itu hanya perasaan aku saja), karena beberapa teman ku yang cowok tampak biasa saja bahkan ada yang ketawa-tawa ga jelas. Apa mereka sudah pasrah dan putus asa? Oke-ini-mulai-ngrelantur-_-

“Jadi Tazmania itu adalah kelainan darah kelainan darah yang sifatnya menurun (genetik), di mana penderitanya mengalami ketidakseimbangan dalam produksi hemoglobin (Hb). Namanya Tazmania minor. Ini ga berbahaya, ga ada efek samping apapun untuk tubuh kalian. Ini baru kemungkinan saja, makanya saya bilang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dampaknya hanya, jika sesama penderita Tazmania minor menikah maka kemungkinan anaknya akan terkena Tazmania major, sehingga anak ini harus terus mendapat transfuse darah seumur hidupnya, ya katakanlah jadi tidak normal dan kemungkinan akan berakhir dengan kematian (ini yang mungkin terjadi pada anaknya temen papaku tadi). Jadi ini sekedar pemberitahuan saja kepada kalian.”

Yayaya jadi itulah penjelasan dosenku. Alhamdullilah. Amit-amit bangetlah pikiran aku tadi, bukan hanya aku tapi juga teman-temanku, bahkan tadi ada yang bertanya apa ini sejenis Leukimia? Gilak ga tuh, pikiran kami udah melanglang buana kemna-mana, mungkin ada juga yang sudah berniat memutuskan pacarnya dan bilang sebaiknya pacarnya cari yg lain saja karena hidupnya sudah tidak lama lagi (oke aku kembali drama) LUPAKAN!!!
Fiiiuuuh lega rasanya. Allah masih menyayangiku. Saat aku sampe kosan aku memeriksa ponselku yang dari tadi di dalam tas. Ada 10 misscall dari mama, 8 misscall dari papa, dan entah berapa sms dari mereka. Aku lupa tadi sempat mengirim sms yang super duper ambiguuuu!!!
Aku langsung menelpon mama ku. Dan you know? Mama langsung bertanya ada apa dengan darahku? Aku sakit apa? Dan pertanyaan itu di sertai dengaaaaaaaaaaaan………………tangis. (jujur suaru ku sempat tertahan saat menedengar beliau nangis) Akhirnya aku jelasin semuanya, sampe detail. I am okay, really really Okay J Mama pun menasehati ini itu, makan yang banyak, minum, susu, bulan madu, ehh minum madu maksudunya, biar aku sehat.
Selang beberapa detik aku memutus sambungan telpon ku, ada panggilan masuk dari papa. Beliau tidak langsung bertanya ada apa dengan suara bergetar seperti mama tadi, tapi beliau nanya aku lagi dimana? Sama siapa? Sudah makan belum? Tadi ke kampus jam berapa? Dan akhirnya masih dengan suara tenang beliau bertanya ada apa sebenarnya dengan hasil tes darahku? Yaaa dan aku kembali menjelaskan kalo semua baik-baik saja. Beliau berkata baguslah, Alhamdulilah, papa tau semua kan baik-baik saja. A*** kan sehat.

Aku tersenyum sendiri di kamar kosku yang mulai terasa panas. Kejadian ini membuatku sadar tentang banyak hal, pertama aku ini bukan siapa-siapa tanpa Tuhan bahkan aku sangat takut divonis macam-macam yang berkaitan dengan penyakit parah dan kematian, kedua seharusnya aku bisa mengatasi sendiri dulu masalah yang kuhadapi jangan terlalu cepat mengadu dan membuat orang tuaku yang jauh di sana jadi cemas bukan main, ketika aku mempunyai dua sosok yang sangat menyayangi ku tak terbatas, mama yang berhati lembut dan selalu memberi perhatian besar padaku tentang ini itu, dan papa yang selalu memberiku keyakinan kalo aku adalah anak yang tangguh. Dua figure luar biasa yang bertolak belakang dalam memperlakukan anaknya ini J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar